Mengenal Seputar Olahraga Balap Perahu Naga dari Tiongkok


Mengenal Seputar Olahraga Balap Perahu Naga dari Tiongkok

Balap perahu naga dragon boating merupakan olahraga berasal dari negeri Tiongkok, tapi kini sudah menyebar ke seluruh Asia bahkan dikenal dunia. Bahkan menjadi salah satu jenis olahraga yang sangat disukai hampir di seluruh dunia.

Pada perlombaan dragon boating yang ditunjukkan bukan hanya kekuatan para atlet dalam mengayuh dayung, tapi juga keindahan perahunya, semangat pemain gendang, hingga kerjasama seluruh atlet dalam perlombaan tersebut.

Balap Perahu Naga Bermula pada Zaman Dinasti Chu

Mengenal balap perahu naga atau dragon boating yang merupakan olahraga dari negeri Tiongkok, tapi kini sudah menyebar ke seluruh Asia bahkan dikenal dunia.

Jika dilihat dari sejarahnya, balapan dragon boating ternyata sudah ada sejak 700 tahun sebelum masehi. Tepatnya mulai dikenal pada zaman Dinasti Chu (700-200 SM) di daerah Tiongkok Selatan, Provinsi Guangdong Selatan, Cina.

Perahu naga atau disebut Long Zhou, mulanya dibuat dengan tujuan seremonial dan ritual. Dibuat dari kayu jati dan dibentuk dengan unik, yaitu ada kepala naga Asia pada bagian haluan dan ekornya menempel di buritan.

Seluruh bagian badan dicat seperti sisik naga sehingga apabila berada di atas air tampak seperti naga yang sedang berenang. Pada saat itu, balap perahu naga hanya diadakan saat festival saja.

Sepuluh awak kapal akan menggunakan dayung panjang untuk mendayung, sementara seorang awak atau beberapa lainnya akan menabuh gendang di haluan atau buritan. Semakin besar ukuran perahunya, maka makin banyak awak yang diperlukan untuk mendayung.

Sepanjang perjalanan menyusuri sungai, gendang akan ditabuh penuh semangat agar pendayung bisa bergerak cepat serta seirama. Beberapa perahu akan dikayuh bersamaan dari titik mulai hingga titik akhir.

Balap Perahu Naga di Era Modern

Bermula dari ritual sebagai bentuk pemujaan kepada dewa dan dewi, balapan dragon boating kemudian berkembang menjadi atraksi turis pada era modern. Bermula dari digelarnya dragon boating festival oleh Hong Kong Tourist Association pada tahun 1970-an.

Karena para awak harus menggunakan kekuatan fisik yang besar, baik pendayung maupun penabuh drum/gendang. Maka dragon boating kemudian dijadikan sebagai olahraga.

Pada era modern dragon boating tidak hanya merupakan festival melainkan sebuah perlombaan nasional maupun internasional. Bahkan bukan hanya di China saja, balap perahu naga juga banyak diadakan sebagai perlombaan di berbagai negara lainnya.

Salah satunya di Indonesia yang mengenal berbagai perlombaan balap perahu. Sebagian merupakan pengaruh dari dragon boating China, tapi ada juga yang berasal dari tradisi masyarakat lokal.

Sebagai contoh balapan jukung di Kalimantan, perlombaan perahu atau jukung di Kalimantan merupakan tradisi masyarakat yang sudah ada sejak lama. Hingga saat ini masih dilestarikan dengan diadakannya perlombaan tingkat daerah.

Selain melestarikan budaya, juga diadakan untuk menjaring atlet-atlet dayung nasional yang dapat berlaga di berbagai event olahraga nasional maupun internasional.

Dragon Boat International Festival kemudian berubah menjadi Hong Kong International Races (HKIR). Berkat adanya perlombaan tahunan ini, balapan dragon boating makin dikenal dunia dan menjadi kejuaraan dunia tidak resmi.

Dari ajang tidak resmi, kemudian dragon boating menjadi olahraga resmi di beberapa ajang internasional, seperti Asian Games, SEA Games, hingga dijadikan sebagai olahraga demonstrasi pada Olimpiade Paris 2024.

Aturan Dasar Balap Perahu Naga

Aturan dasar dalam dragon boating diatur mulai dari ukuran perahu, jumlah atlet dayung hingga penabuh drumnya. Kemudian diatur juga lintasan atau jarak perlombaan.

Dalam aturan dasarnya diatur bahwa ukuran perahu mulai dari 8 hingga 18 meter dengan kedalaman dan lebar menyesuaikan tujuan serta aturan federasi balapan. Sedangkan jumlah kru akan menyesuaikan ukuran tersebut, minimal ada 10 orang kru dalam tiap tim.

Kru terdiri dari atlet dan penabuh drum. Pada dragon boating, peralatan yang digunakan tidak bermesin. Jadi, harus digerakkan dengan kekuatan otot dari kru pendayung. Oleh sebab itu, menjadi kru pendayung memerlukan latihan fisik yang baik.

Bagi penabuh drum juga diperlukan latihan fisik agar bisa menabuh drum dengan penuh semangat selama perlombaan.

Peraturan Balap perahu naga mulai diatur dengan baik pada tahun 1940-an, kemudian dibuat penyesuaian kembali tahun 1997. Terdapat empat peraturan utama dalam dragon boating yang harus diikuti oleh atlet atau kru, yaitu:

  • Perahu berada di haluan kiri harus menjauh dari yang berada di haluan kanan.
  • Apabila berada di haluan yang sama dan saling tumpang tindih, maka perahu di arah angin harus menjauh dari tim di sisi bawah angin.
  • Apabila berada di haluan sama, tapi tidak saling tumpang tindih, maka buritan harus menjauh dari tim bagian depan.
  • Apabila mengubah haluan harus menjauh dari tim lain agar tidak bertabrakan.

Sanksi Jika Melanggar Aturan Dragon Boating

Secara total ada 15 aturan dalam dragon boating. Namun, yang paling mendasar adalah prinsip sportivitas atlet. Apabila ada peserta yang melanggar aturan akan menerima penalti, bahkan bisa diharuskan mengundurkan diri.

Pada era modern dragon boating tidak hanya merupakan penyemarak festival, tapi merupakan olahraga resmi. Setiap anggota kru merupakan atlet yang harus memiliki keahlian serta melalui latihan fisik ketat agar bisa ikut dalam perlombaan.

Balap perahu naga merupakan olahraga yang diatur sendiri oleh para atletnya dengan berdasar prinsip sportivitas sehingga setiap atlet pelanggar aturan harus mendapatkan hukuman atau mengundurkan diri.